
Saya terjebak harus memperbaiki mainan keponakan saya pada suatu hari yang panas. Memakan 30 menit dari waktu membaca saya yang sangat berharga untuk berkutat dengan obeng dan lain sebagainya. Dengan dia mondar-mandir di sekitar saya, dilengkapi oleh suara berisik dari mulut dan barang-barangnya yang lain, saya hampir terbakar… .
Lelaki kecil berusia 9 tahun ini pernah didiagnosa menderita ADHD (Attention Deficit and Hyperactive Disorder) atau gangguan pemusatan perhatian disertai hiperaktivitas. Sepanjang waktu, dia selalu sibuk melakukan sesuatu dan memberi komentar tentang apppa sajja.
Nah, siang itu dia juga terus memberi tahu apa saja yang harus saya lakukan, menyuruh saya mencoba cara yang lain, dengan alat yang lain, dan bahkan menyarankan untuk, “Tunggu Eyang saja!” ketika melihat saya kepayahan.
Atas nama gengsi, dengan muka lancip saya bilang, “Ah, sebentar lagi bisa kok.”
Namun dengan pemahaman atas perilaku ADHD-nya, saya memaksa diri untuk bersabar. Saya termotivasi memperbaiki mainan itu hanya untuk menunjukkan padanya arti dari sebuah usaha dan pentingnya menyelesaikan apapun yang sudah dimulai. Saya ingin menekankan pemahaman bahwa selalu ada hasil untuk setiap usaha yang kita lakukan.
50 menit yang meletihkan telah berlalu, … akhirnya saya memutuskan untuk membuat rencana menyerah dengan cara yang elegan. Kalau dia sudah cukup umur saja, saya cukup bilang, “Kita sudah berusaha keras, tapi tetap saja Tuhan yang menentukan”. Hahaha… . Jika segala sesuatu dikembalikan pada Tuhan, kita aman bukan? Setidaknya orang akan berhenti berkomentar, apalagi menyalahkan.
Nah, sebelum saya berserah, saya meminta pertolongan Tuhan. “Ya Tuhan, berilah saya kesempatan untuk menunjukkan pada anak ini makna dari suatu perjuangan. Tolonglah saya. Saya telah melakukan semua hal yang saya bisa. Bimbinglah dia untuk belajar sesuatu dari peristiwa ini, ya Tuhan. Tolonglah saya… .”
KLEK!
Tiba-tiba, mainan itu berfungsi lagi!
SEPERTI YANG SEHARUSNYA!
SEPERTI BIASANYA!
“Yeah, bisa! Bisa jalan lagi!” katanya.
Senyum lebar terpampang di wajahnya yang waktu itu masih tembem.
‘Oh God, Oh God. You are here!’
(‘Ya ampun, ya Tuhan. Kau ada di sini!’)
Dia langsung menjawab doa saya.
Saya merasa sangat lega… . Suatu perasaan yang lebih hebat dari rasa bahagia. Hwow, bagi saya ini adalah suatu keajaiban. Suatu pengalaman transendental yang belum pernah saya miliki. Dan pada hari itu, bukan hanya keponakan saya yang mendapat pelajaran. Saya, saya sendiri, telah diberitahu makna terdalam dari perjuangan dan berserah (bukan menyerah). Dari Sang Master… .
-23.03.08-