Daya Tarik Seksual sebagai Dasar Hubungan, seberapa Efektif?

March 25, 2009 No Comments

Daya tarik seksual berkaitan dengan figur kepribadian?

Ya, tapi begitu pula dengan persepsi Anda terhadap kepribadian calon pasangan. Mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh Klohnen, E.C., & S. Luo pada tahun 2003 (tentang daya tarik interpersonal dan kepribadian) menyatakan bahwa rasa keamanan diri (self-security) dan paling tidak persepsi seseorang akan partnernya diketahui merupakan unsur yang menentukan daya tarik. Artinya, kita menyukai tipe kepribadian tertentu, yang membuat kita tertarik pada seseorang. Tapi selain kepribadian nyata dari orang tersebut yang hanya bisa diverifikasi melalui interaksi dalam kurun waktu tertentu, persepsi Anda akan calon pasangan lah yang menarik Anda padanya, entah orang yang Anda kasihi tersebut memiliki kepribadian semacam itu atau tidak. Inilah yang mungkin membuat kita mendengar pernyataan umum dari pria wanita yang hubungannya gagal, “Kukira dia adalah orang yang ‘…seperti ini…’” Lalu bagaimana daya tarik bekerja dalam suatu hubungan? Anda barangkali pernah mendengar bahwa daya tarik adalah suatu awal, atau suatu faktor dalam sebuah hubungan. Kemungkinan memang begitu, setidaknya di awal; tapi daya tarik saja tidak dapat membuat suatu hubungan berjalan baik. Daya tarik memang yang membuat Anda menyadari keberadaan lawan jenis, tapi semakin Anda mengenal orang tersebut, daya tarik tinggallah suatu pertimbangan.

 

Jadi, apakah saya sebaiknya berhenti menjadi menarik?

Daripada berusaha menjadi menarik secara fisik saja, lebih baik menjadikan segala aspek diri Anda menarik. Aspek tersebut menyangkut kesehatan fisik, emosi, mental, dan spiritual. Namun memang, daya tarik fisik tetaplah menjadi perintis. Ingat, hukum biologi tradisional, kita cenderung memilih pasangan dengan kualitas genetik yang terbaik (yang berarti tersehat). Dimana fokus emosi Anda, tanyakan ini pada diri sendiri: Apakah Anda ingin menghabiskan waktu bersama orang yang merasa tidak aman tentang dirinya sendiri? Mungkin tidak! Ada kebijakan dalam memahami diri sendiri: siapa diri Anda, hal-hal apa yang Anda yakini, nilai-nilai dan mimpi-mimpi apa yang Anda miliki. Jangan berpura-pura menjadi seseorang yang bukan diri Anda. Membodohi orang lain dengan membuat mereka berpikir bahwa Anda memiliki nilai dan keyakinan yang sama hanya akan menyebabkan Anda berduas kecewa. Jika Anda sehat dalam segala aspek, ketertarikan menjadi suatu konsekuensi, dan bukanlah suatu akhir. Seperti yang disebutkan dalam penelitian Klohnen dan Luo, rasa seseorang akan keamanan dirinya, mungkin lebih besar dari sekedar daya tarik. Tapi ingat: lakukan ini untuk diri Anda sendiri, dan bukan untuk orang lain. Baru setelah itu Anda akan meraih manfaat dari daya tarik Anda sebagai seorang pribadi. Selamat mencoba! -admin-

No related posts.

Tags: , , , , , , , , , , , artikel, asmara

Leave a Reply


Tikus Tua yang Pernah Muda

Akhirnya, pemimpin tikus menggelar pertemuan. “Tuan-tuan dan nyonya-nyonya, anak-anak dan bayi tikus,” ucapnya. “Saat ini tiba waktunya bagi kita untuk...

jalan bercabang

Two roads diverged in a wood And I took the one less traveled by And that has made all the difference.   -Robert Frost- American...

vows to myself

So I vowed to keep my self alive, but only if I would never use me again for just...

peace, kedamaian

Peace is not something you wish for. It’s something you make, something you do, something you are, and something you give away. Kedamaian bukanlah sesuatu yang kau angankan. Kedamaian adalah sesuatu yang kau ciptakan, sesuatu yang kau lakukan, sesuatu...

menabur benih kebaikan

Speaking with kindness creates confidence, thinking with kindness creates profoundness, giving with kindness creates love. Bicara penuh dengan kebaikan...

Apply it!

Knowing is not enough; we must apply. Willing is not enough; we must do. Tahu tidaklah cukup; kita harus menerapkannya. Ingin atau mau...