<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>infopsikologi.com &#187; curhat online</title>
	<atom:link href="http://infopsikologi.com/category/curhat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://infopsikologi.com</link>
	<description>pusat informasi dan tips psikologi</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Feb 2012 00:26:30 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>bagaimana cara melupakan kesalahan</title>
		<link>http://infopsikologi.com/2009/02/bagaimana-cara-melupakan-kesalahan/</link>
		<comments>http://infopsikologi.com/2009/02/bagaimana-cara-melupakan-kesalahan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Feb 2009 17:18:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>infopsikologi</dc:creator>
				<category><![CDATA[asmara]]></category>
		<category><![CDATA[curhat online]]></category>
		<category><![CDATA[cara melupakan kesalahan]]></category>
		<category><![CDATA[cara memaafkan]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasi asmara]]></category>
		<category><![CDATA[masalah cinta]]></category>
		<category><![CDATA[pacar selingkuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://infopsikologi.com/?p=83</guid>
		<description><![CDATA[Saya seorang gadis berusia 23 tahun, sudah menjalin hubungan kurang lebih 2 tahun dengan pacar saya ini. Sekitar 8 bulan lalu dia terpergok jalan dengan kawan saya sendiri, satu kerjaan pula! Saya kecewa sekali, tapi kami tetap meneruskan hubungan. Dia sudah minta maaf. Meski demikian sebenarnya hingga sekarang saya belum bisa melupakan kesalahannya. Bagaimana cara melupakan itu? 
No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Halow,</p>
<p>Saya seorang gadis berusia 23 tahun, sudah menjalin hubungan kurang lebih 2 tahun dengan pacar saya ini. Sekitar 8 bulan lalu dia terpergok jalan dengan kawan saya sendiri, satu kerjaan pula! Saya kecewa sekali, tapi kami tetap meneruskan hubungan. Dia sudah minta maaf. Meski demikian sebenarnya hingga sekarang saya belum bisa melupakan kesalahannya. Bagaimana cara melupakan itu? Mohon sarannya. Terima kasih,</p>
<p>-Luffi-</p>
<p style="text-align: center;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>Hallo juga, Luffi.</p>
<p>Memang sulit kalau mau melupakan, dan akan tambah sulit ketika kita memaksakan diri untuk lupa. Fokus saja ke:</p>
<ol>
<li>Apa yang perlu diperbaiki dari hubungan kalian (sehingga dia bisa berpaling),</li>
<li>Tidak perlu ungkit-ungkit, nanti malah tidak bisa lupa.  Kamu makin sakit hati, dia merasa tambah bersalah, akibatnya hubungan pun tambah kagok,</li>
<li>Pastikan dia tidak hanya minta maaf, tapi berniat pula untuk tidak mengulangi lagi.</li>
</ol>
<p>Pertanyaannya, <strong>bagaimana</strong>?</p>
<ul>
<li>Minta dia untuk selalu jujur</li>
<li>Kamu sendiri juga musti mau mendengar dan terbuka, jangan cepat-cepat berkesimpulan</li>
<li>Kamu memberi contoh bahwa kamu juga jujur padanya</li>
<li>TANYA apakah dia keberatan untuk tidak perlu lagi menghubungi kawan sekerjamu itu (sepertinya perempuan, ya? Luffi tidak menyebutkan jenis kelaminnya&#8230;)</li>
</ul>
<p>Tertarik untuk mencoba, Luffi? Semoga bermanfaat!</p>
<div class="shr-publisher-83"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Finfopsikologi.com%2F2009%2F02%2Fbagaimana-cara-melupakan-kesalahan%2F'></a><a class='shareaholic-tweetbutton' data-shr_count='none' data-shr_href='http%3A%2F%2Finfopsikologi.com%2F2009%2F02%2Fbagaimana-cara-melupakan-kesalahan%2F' data-shr_title='bagaimana+cara+melupakan+kesalahan'></a><a class='shareaholic-googleplusone' data-shr_size='medium' data-shr_count='false' data-shr_href='http%3A%2F%2Finfopsikologi.com%2F2009%2F02%2Fbagaimana-cara-melupakan-kesalahan%2F' data-shr_title='bagaimana+cara+melupakan+kesalahan'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://infopsikologi.com/2009/02/bagaimana-cara-melupakan-kesalahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seni Berserah vs Menyerah</title>
		<link>http://infopsikologi.com/2009/01/seni-berserah/</link>
		<comments>http://infopsikologi.com/2009/01/seni-berserah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Jan 2009 17:06:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>infopsikologi</dc:creator>
				<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[curhat online]]></category>
		<category><![CDATA[ADD]]></category>
		<category><![CDATA[ADHD]]></category>
		<category><![CDATA[Hiperaktif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://infopsikologi.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[Namun dengan pemahaman atas perilaku ADHD-nya, saya memaksa diri untuk bersabar. Saya termotivasi memperbaiki mainan itu hanya untuk menunjukkan padanya arti dari sebuah usaha dan pentingnya menyelesaikan apapun yang sudah dimulai. Saya ingin menekankan pemahaman bahwa selalu ada hasil untuk ... .
No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>&nbsp;</p>
<p>Saya terjebak harus memperbaiki mainan keponakan saya pada suatu hari yang panas. Memakan 30 menit dari waktu membaca saya yang sangat berharga untuk berkutat dengan obeng dan lain sebagainya. Dengan dia mondar-mandir di sekitar saya, dilengkapi oleh suara berisik dari mulut dan barang-barangnya yang lain, saya hampir terbakar&#8230; .</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-354" title="menyerah cr r" src="http://infopsikologi.com/wp-content/uploads/2009/01/menyerah-cr-r.jpg" alt="" width="280" height="336" />Lelaki kecil berusia 9 tahun ini pernah didiagnosa menderita ADHD (Attention Deficit and Hyperactive Disorder) atau gangguan pemusatan perhatian disertai hiperaktivitas. Sepanjang waktu, dia selalu sibuk <span id="more-9"></span>melakukan sesuatu dan memberi komentar tentang apppa sajja.</p>
<p>Nah, siang itu dia juga terus memberi tahu apa saja yang harus saya lakukan, menyuruh saya mencoba cara yang lain, dengan alat yang lain, dan bahkan menyarankan untuk, “Tunggu Eyang saja!” ketika melihat saya kepayahan.</p>
<p>Atas nama gengsi, dengan muka lancip saya bilang, “Ah, sebentar lagi bisa kok.”</p>
<p>Namun dengan pemahaman atas perilaku ADHD-nya, saya memaksa diri untuk bersabar. Saya termotivasi memperbaiki mainan itu hanya untuk menunjukkan padanya arti dari sebuah usaha dan pentingnya menyelesaikan apapun yang sudah dimulai. Saya ingin menekankan pemahaman bahwa selalu ada hasil untuk setiap usaha yang kita lakukan.</p>
<p>50 menit yang meletihkan telah berlalu, &#8230; akhirnya saya memutuskan untuk membuat rencana menyerah dengan cara yang elegan. Kalau dia sudah cukup umur saja, saya cukup bilang, “Kita sudah berusaha keras, tapi tetap saja Tuhan yang menentukan”. Hahaha&#8230; . Jika segala sesuatu dikembalikan pada Tuhan, kita aman bukan? Setidaknya orang akan berhenti berkomentar, apalagi menyalahkan.</p>
<p>Nah, sebelum saya berserah, saya meminta pertolongan Tuhan. “Ya Tuhan, berilah saya kesempatan untuk menunjukkan pada anak ini makna dari suatu perjuangan. Tolonglah saya. Saya telah melakukan semua hal yang saya bisa. Bimbinglah dia untuk belajar sesuatu dari peristiwa ini, ya Tuhan. Tolonglah saya&#8230; .”</p>
<p>KLEK!<br />
Tiba-tiba, mainan itu berfungsi lagi!<br />
SEPERTI YANG SEHARUSNYA!<br />
SEPERTI BIASANYA!</p>
<p>“Yeah, bisa! Bisa jalan lagi!” katanya.<br />
Senyum lebar terpampang di wajahnya yang waktu itu masih tembem.</p>
<p>‘Oh God, Oh God. You are here!’<br />
(‘Ya ampun, ya Tuhan. Kau ada di sini!’)</p>
<p>Dia langsung menjawab doa saya.</p>
<p>Saya merasa sangat lega&#8230; . Suatu perasaan yang lebih hebat dari rasa bahagia. Hwow, bagi saya ini adalah suatu keajaiban. Suatu pengalaman transendental yang belum pernah saya miliki. Dan pada hari itu, bukan hanya keponakan saya yang mendapat pelajaran. Saya, saya sendiri, telah diberitahu makna terdalam dari perjuangan dan berserah (bukan menyerah). Dari Sang Master&#8230; .</p>
<p>-23.03.08-</p>
<div class="shr-publisher-9"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Finfopsikologi.com%2F2009%2F01%2Fseni-berserah%2F'></a><a class='shareaholic-tweetbutton' data-shr_count='none' data-shr_href='http%3A%2F%2Finfopsikologi.com%2F2009%2F01%2Fseni-berserah%2F' data-shr_title='Seni+Berserah+vs+Menyerah'></a><a class='shareaholic-googleplusone' data-shr_size='medium' data-shr_count='false' data-shr_href='http%3A%2F%2Finfopsikologi.com%2F2009%2F01%2Fseni-berserah%2F' data-shr_title='Seni+Berserah+vs+Menyerah'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://infopsikologi.com/2009/01/seni-berserah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

